Laporan BKSDA: Konflik Buaya dengan Manusia di Sumbar Mencapai 71 Kasus

Di Sumbar, habitat asli buaya cukup luas. Beberapa di antaranya ada di muara sungai Batang Masang, muara sungai sepanjang pantai Sumbar yang memiliki ekosistem rawa dan membentang dari Pesisir Selatan hingga Pasaman Barat.
Beberapa kawasan itu dilindungi, termasuk hutan lindung, hutan produksi, maupun konservasi.
Ardi menjelaskan, konflik antara manusia dengan buaya dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu penampakan diri di luar habitat asli, menyerang ternak warga, dan menyerang manusia.
Buaya yang muncul di habitat asli bukan termasuk konflik karena memang area hidup satwa itu. Manusia hanya kerap terganggu karena menggunakan area yang sama untuk menopang hidup.
"Jadi, ini seharusnya bisa dihindari," ujarnya.
BKSDA menyebut kemunculan buaya di luar habitat asli sebagai potensi konflik, mengingat kemunculan buaya untuk berjemur merupakan bagian dari perilaku hidup hewan buas itu.
Jika menimbulkan efek negatif kepada manusia, maka kasus ini layak disebut konflik.
Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan nomor 46 tahun 2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar.(Mcr33/jpnn).
BKSDA Sumbar melaporkan 71 konflik buaya dengan manusia sepanjang 2009 sampai 2022.
Redaktur : Ade Keno
Reporter : Fachri Hamzah
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Sumbar di Google News